Cuaca Dingin ‘Meledakkan’ Harga Minyak awal tahun, Minyak Indonesia 2009 Rendah

05Jan10

Harga minyak membuka tahun baru dengan sebuah “ledakan” pada Senin waktu setempat, karena cuaca dingin mendorong ekspektasi permintaan energi yang lebih tinggi dalam musim dingin di belahan bumi utara.
Laporan bahwa Rusia memangkas pasokan ke Belarus juga membantu mendorong harga minyak naik, meskipun pejabat di Belarus menyangkal hal ini, kata para dealer.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari, ditutup naik 2,15 dolar pada 81,51 dolar per barel, setelah diperdagangkan sempat mencapai setinggi 81,68 dolar, harga paling curam sejak 21 Oktober.

Minyak mentah Brent North Sea untuk Februari naik 2,19 dolar menjadi menetap di 80,12 dolar di perdagangan London.

Mike Fitzpatrick dari MF Global mengatakan harga minyak didorong oleh kombinasi meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi, yang akan membantu mengangkat permintaan energi bersama dengan cuaca dingin di sebagian besar belahan bumi utara.

“Pendulum sentimen telah berayun kembali menuju optimisme,” katanya, mengutip sebuah laporan yang kuat dari China pada manufaktur.

“China mungkin mesin yang menarik dunia keluar dari resesi.”

Fitzpatrick Arctic mengatakan cuaca di Eropa, China utara dan Amerika Utara juga menyebabkan pedagang menaikkan perkiraan permintaan energi pemanas.

Andy Lipow dari Oil Associates Lipow mengatakan banyak pedagang memperkirakan peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini.

“Pandangan atau 2010 adalah pertumbuhan ekonomi yang akan diterjemahkan ke dalam lebih banyaknya permintaan minyak mentah dan produk minyak,” katanya.

Sokou Myrto analis dari Sucden, mengatakan pasar dipengaruhi oleh berita bahwa Rusia menghentikan pengiriman minyak ke Belarus setelah gagal untuk menyetujui ketentuan baru keuangan untuk 2010.

“Masalah pasokan Rusia tampaknya menjadi peringatan bagi negara-negara Eropa, dengan Jerman dan Polandia mengawasi situasi, menyusul situasi serupa pada 2007,” kata Sokou.

Harga telah meningkat di tengah kekhawatiran akan implikasi langkah Rusia untuk memangkas pasokan minyak ke Belarus, yang telah efektif sejak malam Tahun Baru.

Namun, seorang juru bicara di Belarus pada Senin membantah laporan bahwa Rusia telah memotong pasokan minyak mentah mulai 1 Januari.

“Informasi mengenai pengurangan pasokan tidak sesuai dengan realitas. Minyak keduanya tiba baik untuk transit maupun untuk kilang,” kata juru bicara untuk prosesor/pengolah minyak Belneftekhim kepada AFP.

Laporan media mengatakan, Rusia telah menghentikan pasokan untuk Belarus mulai 31 Desember dengan terus menerus untuk memulai kembali negosiasi yang terhambat oleh perselisihan tarif pengiriman.

Pasar minyak juga didorong oleh data ekonomi yang kuat dari Inggris, China, Jerman dan zona euro.

“Dalam berita ekonomi, angka-angka manufaktur dari China, Jerman, zona euro dan Inggris datang jauh lebih baik dari yang diperkirakan pagi ini, menunjukkan ekonomi mengalami perbaikan layak” kata analis Sucden, Myrto Sokou.

Manufaktur di China terus berkembang pada Desember karena pesanan baru yang diterima oleh pabrik-pabrik naik untuk bulan kesembilan berturut-turut di tengah meledaknya permintaan dari dalam negeri dan luar negeri, sebuah survei menunjukkan Senin.

China adalah negara konsumen energi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

HSBC China Manufacturing PMI, atau indeks pembelian manajer meningkat menjadi 56,1 pada Desember dari 55,7 pada November. Angka di atas 50 berarti sektor ekspansi, sementara angka di bawah 50 menunjukkan penurunan secara keseluruhan.

Harga Minyak Indonesia Rendah

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) mencatat harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sepanjang? tahun 2009? mencapai US$ 61,58 per barel.? Angka ini hampir mendekati asumsi harga minyak dalam APBNP 2009 yang sebesar US$ 61 per barel.

“Angka ini menjadi dasar perhitungan penerimaan negara dan subsidi karena APBN menggunakan cash basis,” demikian siaran pers yang dikutip dari Ditjen Migas, Selasa (5/1/2009).

Untuk ICP Desember 2009 tercatat mencapai US$ 75,58 per barel atau mengalami penurunan US$ 1,50 per barel jika dibandingkan ICP November 2009 yang mencapai US$ 77,08 per barel.

Harga Minas/SLC selama Desember sebesar US$ 78,13 per barel, turun sebesar US$ 1,94 per barel jika dibandingkan November 2009 yang mencapai US$ 80,07 per barel.

Penurunan harga minyak mentah Indonesia ini sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional, yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu meningkatnya produksi OPEC pada bulan November 2009 sebesar 0,135 juta barel per hari menjadi 29,1 juta barel per hari.

Produksi ini tertinggi dalam setahun. Peningkatan produksi OPEC terutama berasal dari Nigeria setelah kondisi keamanan di negaranya membaik. Peningkatan produksi juga disebabkan oleh menurunnya tingkat ketaatan (compliance rate) anggota OPEC terhadap kesepakatan pengurangan produksi menjadi 58% pada bulan November 2009 dari sebelumnya sebesar 60% pada bulan Oktober 2009.

Selain itu, terjadinya peningkatan produk Non OPEC yang cukup signifikan pada kuartal IV 2009 sebesar 0,5 juta barel per hari jika dibandingkan tahun 2008 dan kekhawatiran investor bahwa fundamental pasar minyak terutama permintaan minyak masih akan terus merosot, terutama di Eropa yang mengalami penurunan output industri untuk pertama kalinya dalam 6 bulan terakhir.

Aksi profit taking yang dilakukan investor pada pasar komoditas minyak mentah setelah selama 9 bulan terakhir harga minyak mentah terus mengalami peningkatan dan menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah juga disebabkan oleh keputusan Idemitsu Kosan Co. Jepang untuk menurunkan tingkat pengolahan kilangnya sebesar 2% akibat lemahnya permintaan produk minyak domestik.

Selengkapnya harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Desember dibandingkan bulan sebelumnya, sebagai berikut:

  • WTI (Nymex) turun US$ 3,66 per barel dari US$ 78,26 per barel menjadi US$ 74,60 per barel.
  • Brent (ICE) turun US$ 2,37 per barel dari US$ 77,58 per barel menjadi US$ 75,21 per barel.
  • Tapis (Platts) turun US$ 2,63 per barel dari US$ 80,23 per barel menjadi US$ 77,60 per barel.
  • Basket OPEC turun US$ 2,58 per barel dari US$ 76,29 per barel menjadi US$ 73,71 per barel.

sumber : bisnis di indonesia



No Responses Yet to “Cuaca Dingin ‘Meledakkan’ Harga Minyak awal tahun, Minyak Indonesia 2009 Rendah”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: